Move On
March 29, 2007
MOVE ON
Bi Rain & Song Hye Kyo Fan Fiction 

Dalam gamang dan bimbang Hye Kyo masih terdiam, menatap tajam pada script yang musti dia hapal walau kalau diperhatikan, tatapannya itu kosong penuh beban.

Sedang disuatu sudut ruangan duduk seorang Bi yang sedang tekun membaca komik untuk mendalami peran yang sedang dia bawakan. Sesekali dia melirik pada gadis lawan mainnya yang jelas nampak dihatinya ada kemurungan disana. Dia berusaha keras menyembunyikan rasa ingin tahunya tentang apa yang sedang bergelayut di hati lawan mainnya itu, dengan terus membaca komik dimana karakter dalam komik itu harus dia bawakan dalam shooting hari ini. Bi Bi dan Hye Kyo satu kampus beda jurusan, tetapi mereka mengikuti satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sama yaitu Liga Film Mahasiswa (LFM), dan kali ini mereka sedang membuat satu project yaitu memfilmkan komik pendek dan mereka menjadi pasangan. Nampaknya rasa penasaran Bi lebih besar dan terus menyerang pikirannya, perlahan dia berjalan menuju kearah dimana Hye Kyo berada.

“Kwenchana?.” Lembut dia menepuk bahu kanan Hye Kyo dengan muka penuh perhatian.
“Ouwh, am okay, kenapa?.” Hye kyo nampak menutupi keterkejutannya atas kehadiran Bi disampingnya, membuat Bi juga menjadi salah tingkah.
“Aku lihat kamu dari tadi nge-Blank, seperti ada yang sedang kamu pikirkan, wuzzup? If you trust me just tell me, what’s happen?.” Bi bertanya penuh perhatian.
“Hmm it’s okay, never mind, cuman sedang ada yang aku pikirkan, gimana, udah siap untuk take?.” Hye Kyo berusaha mengalihkan pembicaraan. Akhirnya Bi menyerah, mereka kini terlibat dalam pembicaraan bertopik pekerjaan, dan Kyo pun berusaha menutupi muram durja dihatinya sekuat tenaga dan berusaha profesional. Sesekali Bi mencuri pandang pada Kyo dengan tatapan menyelidik, apa gerangan yang sedang dia pikirkan, begitu bisik hatinya.

Waktu berlalu dan Bi Kyo hampir tiap hari ketemu di base camp LFM, karena Bi merasa belum bisa masuk lebih dalam ke hati Kyo, padahal dia tahu Kyo sedang ada masalah, Bi tahu dari tatapan mata Kyo ada gundah disana, setiap kali dia bersama Kyo dia selalu membuat lelucon – lelucon dan kejahilan - kejahilan yang bisa membuat Kyo tertawa. Sedangkan jauh disebuah ruang kecil hati Kyo tanpa dia sadari, telah terisi sebuah memori tentang kejenakaan dan hiburan tersendiri dari Bi. Dan Bi menyadari dengan pasti, ada sebuah perasaan tulus darinya untuk gadis itu, apapun yang akan dia dapat, dia hanya ingin gadis itu tersenyum.

Hyun : “Kurasa memang semua musti berakhir, mungkin belum rejeki kita untuk selalu bersama, maafkan aku kalau ini menyakitkanmu, tapi keputusan ini akan menghindarkanmu dari luka yang menyakitkan lagi nantinya. Jalanmu masih panjang, kuharap kau bisa tetap menatap masa depan.”
Kyo : “Jadi harus seperti ini, tapi kenapa, apa salahku.?”
Hyun : “Bukan salahmu, sepenuhnya semua ini salahku, hatiku yang salah, dia sudah berbelok arah tanpa bisa kukendalikan, terus bersamamu sedang dia memikirkan yang lain begitu menyiksaku, aku takut akan terus menyakitimu.”
Kyo : “Tidak ada kesempatan lagi?.” Sekuat tenaga Kyo menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya.
Hyun : “Sekali lagi maafkan aku Kyo, tidak ada maksud hatiku untuk menjadi seperti ini, tapi ini kurasa hal terbaik buat kita.”
Kyo : “Terbaik menurut siapa? Selama dua tahun ini hasil yang aku dapatkan? Tapi it’s okay, aku hargai kejujuran dan keputusanmu, aku setujui perpisahan ini.”

Bayangan bagaimana hatinya patah berkeping terbayang jelas dalam benak Kyo, kejadian itu sudah tiga bulan berlalu, tapi Kyo belum juga bisa melupakannya. Apalagi ketika malam tiba, dan Kyo duduk dikamarnya dalam kesendiriannya, kesedihan itu selalu berakhir dengan jatuhnya air mata. Kyo merasa lelah, capek, setiap malam harus menghadapi kerapuhannya sendiri, walau di siang hari semua duka itu akan dia lupakan dengan padatnya kegiatannya. Dia mulai memejamkan matanya, memantapkan hati, untuk menutup hatinya, dan hanya akan memikirkan tentang kuliahnya.

Di sebuah rumah mewah,
Seorang ayah berbicara dengan wibawa kepada anaknya “Hidupmu sudah ditentukan, arah kemana jalanmu akan berujung sudah disiapkan, tidak ada lagi yang perlu kau cemaskan, kau hanya tinggal menjalaninya sebaik – baiknya. Ayahmu ini mempersiapkan semua ini untukmu sejak kamu lahir, kini bola ada ditanganmu, lakukan yang terbaik.”
“Jadi aku dilahirkan untuk melakukan ini semua tanpa ada hakku untuk bertanya?.”
“Kenapa kamu selalu membantah apa yang aku bilang, selama ini apa yang tidak kupenuhi dari semua keinginanmu, bahkan dimana kamu kuliahpun aku sepenuhnya memberimu kebebasan, sampe kepada kegiatan konyolmu di LFM itu!.”

Bi datang dari keluarga yang cukup berada, masa depannya setelah kuliah sudah ditentukan oleh ayahnya, sebuah perusahaan besar sudah menantinya, bahkan calon istri pun sudah disediakan, hidup macam apa yang harus kujalani kini, pikir Bi dalam hati. Membuat pandangannya menerawang, akan sebuah perasaan yang sudah mulai dibangunnya untuk seseorang, dia merasa harus menghancurkannya, karena dia tidak ingin seseorang itu mempunyai beban lain yaitu dia dan hidupnya yang begitu runyam menurutnya. Perlahan, dia menata hati untuk menghindari sosok yang selama ini dia yakini mempunyai sebuah hati untuk dia singgahi, tatapan bening bola mata yang memancarkan kejujuran dan kebaikanya, dia harus mulai melupakan semuanya.

Dengan kenyataan yang terjadi pada hidup Bi dan Kyo masing – masing, seiring berjalannya waktu, tanpa mereka sadari, akhirnya kedekatan mereka pun renggang juga, kebersamaan yang dulu pernah ada kini tiada. Semenjak project berakhir, berakhir pulalah komunikasi diantara mereka berdua, apalagi semenjak malam dimana ayahnya mengatakan tentang semua masa depan Bi, semenjak itu pula Bi tak pernah menapakkan kakinya kembali ke base camp LFM. Terkadang ada rasa aneh tanpa kejahilan dan kelucuan Bi mengiri hari – hari Kyo, tapi dia coba menghalaunya.
Sedangkan Bi, mencoba menjalani hari – hari nya tanpa asa, baginya jalan hidupnya sudah ditentukan, tidak ada jalan baginya untuk belok arah, tidak ada gunanya dia berpikir, sekuatnya dia berusaha untuk menahan rasa ingin tahunya tentang keadaan Kyo kini, yang terkadang membuatnya harus mengendap – endap melihat jadwal kuliah Kyo, di ruang berapa, tapi disuatu masa dia lelah, hanya cukup lega melihat Kyo baik – baik saja.

Dua tahun kemudian di hari pernikahan,
Sambil merapikan jas putih nya Bi menggerutu sendiri, ini gila, keterlaluan, jaman apa kali ini, hari ini adalah hari dimana aku harus menikahi seorang gadis yang belum pernah aku temui. Mukanya seperti apa, matanya dua, kakinya dua, tangannya dua, hanya itu yang selalu ayahnya bilang. Dia benar – benar marah, dia merasa seperti robot yang sepenuhnya dikendalikan oleh ayahnya. Apakah ini yang musti dia bayar atas kelahiran dan kehidupannya selama 25 tahun ini, seumur hidup bersama wanita yang tidak dia cintai. Ini gila ! Ambil kesempatan lari sekarang atau aku terkungkung selamanya, pikirnya. Namun sebuah tepukan dan senyuman datang menghampirinya.

“Kau tak akan menyesalinya Nak, Ayahmu ini berusaha memberi mu yang terbaik, jadi tersenyumlah.”

“Ini bukan waktunya lagi berdebat Yah, tapi ini sungguh keterlaluan, aku takkan pernah melupakan semua penindasanmu kepadaku hari ini.”

“Hmm kamu bahkan belum melihat calon pengantinmu, kau akan menyukainya, percayalah.” Sang Ayah mengerling dan tersenyum nakal menggoda anaknya, seolah semua baik – baik saja.

“Menyukainya? Apakah selama ini Ayah pernah menanyakan kepadaku, wanita seperti apa yang aku sukai? Apakah Ayah pernah tahu, adakah wanita yang aku cintai? Tidak ! Ayah tidak pernah melakukannya, dan kini dengan tanpa dosa bilang aku akan menyukainya?.”

“Anakku, aku tahu setiap langkah yang kamu tapaki, aku tahu setiap perasaan yang kamu alami, maafkan membuat semua keputusan ini, tapi Ayah janji kamu tidak akan menyesali.”

“Ah dasar Ayah yang sok tahu … “ Bi hanya bisa menggerutu mendengar pernyataan tak masuk akal dari ayahnya itu.

Bi masih tak percaya apa yang dilihatnya, dia tercengang melihat calon pengantinnya, perasaannya tidak menentu, bertanya pada diri sendiri kalau ini bukan mimpi. Namun ada satu yang membuatnya terganggu, muka calon pengantinnya itu, muka sendu, walau menunduk dan tidak melihat ke arah Bi, dia tahu ada gurat kedukaan di wajahnya. Mungkin gadis itu mempunyai perasaan yang sama dengan Bi tadi, kali ini dia merasa hatinya dua kali lebih sedih dari sebelum tahu siapa calon pengantinnya. Perlahan dia memegang dagu sang gadis untuk melihatnya, hampir berbisik dia berkata “Maafkan aku, aku tak tahu itu engkau.” Masih dalam keterkejutannya sang gadis melihat calon suaminya, sampe dia mundur satu langkah memastikan penglihatannya. “Aku akan melawan pernikahan ini semampuku jika aku tahu itu kau, aku tidak ingin kamu sedih.” Bi melanjutkan bicaranya melihat sang gadis begitu terkejut melihat nya. Suasana hening beberapa saat, “Aku bersyukur setidak nya calon suamiku adalah kamu.” Sang gadis nampak ragu – ragu bicara. “Maaf … “ Hanya kata itu yang keluar lagi dari Bi.

Honeymoon session,
Masih dalam kecanggungannya, di Villa tempat kedua pengantin menginap, keduanya masih terdiam, hanya sesekali bicara, seperlunya. Bi tidak tahan dengan suasana seperti ini, didekatnya ada seorang gadis yang sangat dicintainya, tapi dia tidak bisa menyentuhnya. Karena hanya rona kepedihan yang terpancar dari wajahnya, hatinya serasa teriris melihatnya.
“Kyo, aku benar – benar minta maaf, aku tidak bisa berbuat banyak untuk menolongmu.”
“Bi, adakah kau tahu, mungkin kita adalah sepasang pengantin yang dibimbing Tuhan dari sebuah kedukaan. Aku dengan luka dari masa laluku dan kau dengan luka mu untuk orang yang kamu cintai.”
Kamu tidak tahu Kyo, kamulah orang yang aku cintai, dan apakah itu luka dimasa lalumu, ijinkan aku tahu. Semua itu berkecamuk dalam benak Bi. Dan akhirnya Kyo menceritakan tentang luka masa lalunya kepada Bi.
“Bi, tapi ada satu kelegaan yang membantuku mengatasi ini semua, setidaknya itu kau Bi yang sekarang jadi suamiku, orang yang kukenal, yang selalu membuatku tertawa, gimana kalau suamiku itu orang lain, aku tidak tahu.”
Bi cukup sedikit terhibur akan pernyataan Kyo barusan, untuk pertama kalinya, dia merasakan kerapuhan gadis yang dicintainya itu dalam pelukannya, “Aku tidak akan membuatmu terluka, jadi bersandarlah padaku.”
Sayup terdengar lagu nya Rain mengalun mengantar asa sepasang pengantin baru untuk menatap masa depan, Move On yang reff nya seperti ini (english translated) :


Move on, oh, move on
Stop anymore He never come back
Open your heart, baby
Let me be the one to hold you tight
Be the one you wait for every night
I will always be right by your side instead of that man
I will always be right by your side
Because I promise you time of eternity

THE END.
 

Posted in BiKyo |


6 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://allabouttriefanfic.blogsome.com/2007/03/29/move-on/trackback/

  1. its like beautiful

    Comment by inez — February 14, 2008 @ 7:53 am

  2. aku mau tanya apa nanti film ini akan di tayangkan di indonesia ya semoga aja iya karna aku itu fansnya rain loh

    Comment by diah — March 15, 2008 @ 7:03 am

  3. aku mau tanya apakah nanti film ini akan fi tayangkan di indonesia?????
    semoga aja iya karna aku ini fansnya rain loh

    Comment by diah — March 15, 2008 @ 7:07 am

  4. hi…Rain,how do you do? I am verry like to rain, because he is a handsome, smart, and cute. thanks bye-bye ^_^

    Comment by dwi — August 29, 2008 @ 5:04 am

  5. fanficnya ok onnie..

    aku sebenernya suka baca2 fanfic juga tapi, baru nemu yg ini..

    anyway, masih ttp bikin fanfic lagi ga nieh…?

    Comment by nitaluvrain — July 21, 2009 @ 9:21 am

  6. G mw tanya..judul film ny apa yh?trs apa ada dvd ny??
    Klo d internet ada??

    Comment by may — December 1, 2009 @ 6:47 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.